pembelajaran berbasis skenario (pertemuan ke 15)

Dec 03,2019
A. PENGERTIAN SKENARIO PEMBELAJARANa. Pengertian skenario Pengertian secara umum, skenario adalah urutan cerita yang disusun oleh seseorang agar suatu peristiwa terjadi sesuai yang diinginkan. Pengertian Khusus , Skenario adalah naskah cerita yang ditulis dengan istilah-istilah kamera yang digunakan sebagai panduan untuk pembuatan sebuah tayangan ( Film, Sinema , Elektronik/Sinetron Drama). Menurut Peter Scwartz, skenario adalah a tool (for) ordering one’s perseption about alternative future environments in which one’s decision might be played out right. Jadi skenario adalah sebuah gambaran yang konsisten tentang berbagai kemungkinan (keadaan) yang dapat terjadi di masa yang akan datang. Jika melihat definisi di atas maka dapat dijabarkan bahwa skenario bukanlah sebuah forecasting (ramalan) dalam pengertian bahwa skenario bukanlah sebuah proyeksi masa depan dari data yang ada pada masa kini. Skenario juga bukan sebuah visi (vision) atau kondisi masa depan yang diinginkan. b. Pengertian Pembelajaran Pengertian pembelajaran sangat luas, ada beberapa pengertian pembelajaran dari beberapa sumber yakni : Pembelajaran adalah proses komunikatif-interaktif antara sumber belajar, guru dan siswa saling bertukar informasi. Pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan, dan prosedur yang saling mempengaruhi mencapai tujuan pembelajaran (Oemar Hamalik, 1995:57). Pembelajaran secara etimologis dalam kamus bahasa Indonesia, berasal dari kata “ajar dan belajar”, ajar berarti petunjuk yang diberikan kepada orang lain agar diketahui. Secara terminologis belajar adalah berusaha memperoleh kepandaian ilmu, membaca dan berlatih atau berubah tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman. Tabrani berpendapat bahwa “Pembelajaran pada dasarnya adalah proses mengkoordinasikan sejumlah tujuan, bahan, metode alat dan penilaian. “Pembelajaran adalah proses cara menjadikan orang atau makhluk hidup belajar, atau proses interaksi antara peserta didik dengan lingkungannya, sehingga terjadi pengaruh prilaku kearah yang lebih baru. Bagne dalam bukunya Margaret E. Bell Bliedier mengungkapkan bahwa “Pembelajaran diartikan sebagai cara dari guru guna mendukung terjadinya kegiatan belajar yang dilakukan siswa”. c. Pengertian Skenario Pembelajaran Setelah kita mengetahui pengertian skenario dan pengertian pembelajaran, maka kita dapat mengambil kesimpulan pengertian skenario pembelajaran merupakan urutan cerita yang disusun oleh seseorang guru agar suatu peristiwa pembelajaran terjadi sesuai dengan yang diinginkan. B. Langkah-langkah Pembuatan Skenario: Dalam skenario terdapat langkah-langkah pembuatan scenario diantaranya: · Identify focal Issue (focal Concern) or decision. Maksudnya adalah mengidentifikasikan isu utama atau masalah utama yang akan menjadi fokus untuk dijawab atau untuk diambil keputusannya. · Identify Key Forces. Maksudnya adalah mengidentifikasi faktor-faktor kunci yang diperkirakan akan mempengaruhi focal issue di masa yang akan datang. · Identfy Driving Forces change drivers). Dalam langkah ini harus mampu mengidentifikasi kekuatan-kekuatan yang dapat mendorong perubahan-perubahan yang berkaitan dengan key forces di atas. Secara umum dalam konteks ilmu sosial dan ilmu politik, driving forces yang sering sekali teridentifikasi adalah faktor sosial, faktor politik dan faktor ekonomi. · Identidikasi Ketidakpastian (Identify Uncertainty). Dalam langkah ini harus mencoba mengidentifikasi ketidakpastian dari berbagai hal yang erat kaitannya dengan sosial, politk, dan ekonomi. · Selecting the scenario logic. Di dalam tahap ini, kita harus menyusun logika skenario melalui suatu kualitatif terutama melalui wawancara mendalam atau dengan malakukan Fokus Group Discussion untuk mendapatkan suatu skenario dengan alternative-alternatif lainnya secara logis. · Fleshing out the scenario. Tahap ini merupakan tahap penguatan skenario. Pada tahap ni, perumus skenario dapat menambahkan berbagai data sekunder dan trennya untuk memperkuat berbagai pendapat dari narasumber dan para ahli yang sudah didapat dan ditulis pada tahap sebelumnya. Skenario yang telah terbentuk dengan berbagai alternatifnya ini kemudian digunakan untuk menggambarkan tantangan bagi suatu organisasi (Negara, militer, perusahaan, dan lain-lain). Gambaran dari tantangan tersebutlah bersama-sama dengan penilaian terhadap kondisi organisasi yang ada dipakai untuk menetapakan suatu stratedi (scenario planning) apa yang akan dibuat bagi kepentingan organisasi untuk tetap bertahan, atau untuk dapat mencapai tujuan yang ditetapkan. Dengan kata lain, jika skenario telah selesai dideskripsikan dan tantangan telah dirumuskan, maka langkah berikutnya adalah merumuskan strategi yang harus dibangun dan dijalankan agar skenario buruk yang mungkin terjadi dapat dihindari. C. Langkah Kerja Menyiapkan Skenario Pembelajaran · Terdapat beberapa langkah kerja dalam menyiapkan skenario pembelajaran, diantaranya: Pelajari LKS (Lembar Kerja Soal) yang akan digunakan oleh siswa guna mengetahui materi apa yang akan dipelajari dan dengan cara bagaimana guru akan memfasilitasi peserta didik.· Tentukan waktu, peralatan atau alat bantu yang akan digunakan dalam pembelajaran. · Tulis langkah-langkah yang akan dilakukan dalam proses pembelajaran sesuai dengan tahapan-tahapan pembelajaran yang direncanakan. · Langkah-langkah pembelajaran ditulis secara lengkap. · Tuliskan rencana penilaian terhadap kegiatan belajar. · Kriteria keberhasilan hasil penilaian dapat dirinci secara detail dan mencakup tiga rangkap yaitu kognitif, afektif, dan psikomotor. Contoh Skenario Pembelajaran
Mata Pelajaran : Bahasa Arab Satuan Pendidikan : Sekolah Dasar Kelas/Semester : IV / 2 Waktu : 2 jam pelajaran A. Kompetensi Dasar Mengenal mufrodat (kosakata), minimal disekitar kelas. B. Hasil Belajar Siswa mampu menyebutkan kosakata yang telah diajarkan. C. Indikator Hasil Belajar · Mengetahui mufrodat (kosakata) disekitar lingkungannya. · Menuliskan mufrodat (kosakata) yang akan dipelajari. · Menghafal mufrodat (kosakata) disekitar lingkungannya. · Menyebutkan mufrodat yang kelah dihafal. · Mengaplikasikan mufrodat dalam kesehariannya di kelas.D. Skenario PembelajaranE. Pendahuluan kelompok kecil untuk membangkitkan motivasi belajar siswa, guru menunjukkan beberapa mufrodat di kelas dan murid menyebutkannya. Ø Kegiatan Inti · Guru menyuruh siswa untuk menyebutkan kosakata yang ditunjukan oleh guru.· Salah seorang siswa menyebutkan semua kosakata yang telah disampaikan guru.· Guru menyuruh siswa untuk mencari teman agar bisa berkomunikasi satu sama lain.· Guru menyuruh membuat kalimat dari salah satu mufrodat yang telah disampaikan.F. Penutup · Guru mengajukan pertanyaan untuk menguji pemahaman siswa.· Dengan bimbingan guru siswa membuat kalimat dari mufrodat tersebut sebagai suatu catatan.· Guru memberikan motivasi agar mufrodat yang telah diajarkan dan dihafal siswa dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
D. Alat dan Bahan Alat dan bahan yang digunakan dalam pembelajaran adalah: benda disekitar kelas (buku, pensil, penghapus, jendela, pintu dan lain-lain). E. Penilaian Penilaian performa, pengamatan pada saat siswa melakukan komunikasi dengan temannya.Tes lisan, tanya jawab tentang kegiatan yang baru dilakukan siswa. sesuai dengan indikator kompetnsi yang akan dicapai dalam pembelajaran dan tes tulis. Langkah pertama yang perlu dilakukan untuk mengembangkan silabus menjadi skenario pembelajaran adalah mengumpulkan bahan-bahan acuan. Bahan acuan bisa berupa berbagai buku teks tentang sains, buku eksperimen atau kumpulan aktivitas siswa, ensiklopedi, multimedia dan bahan penunjang seperti majalah, koran atau hasil penelusuran di internet. Masing-masing bahan acuan akan saling melengkapi sehingga skenario menjadi lebih baik. Buku teks tentang sains diperlukan karena didalamnya terdapat ulasan yang mendetail tentang materi pokok yang akan dibahas. Pilihlah buku teks terbaru karena buku-buku baru memuat informasi-informasi yang up to date. Jika mungkin disediakan beberapa buku teks karena masing-masing buku biasanya memiliki kelebihan tersendiri. Jika tersedia beberapa buku dapat dijadikan perbandingan supaya konsep-konsep yang dikembangkan dalam materi pelajaran diyakini kebenarannya. Buku eksperimen adalah buku yang berisi berbagai aktivitas atau percobaan laboratorium yang dapat dilakukan oleh siswa. Kegiatan laboratorium dapat secara langsung digunakan jika tersedia bahan-bahan yang dibutuhkan. Kegiatan laboratorium dapat pula dimodifikasi dengan menggunakan bahan-bahan yang mudah didapatkan. Jika perlu kegiatan laboratorium dapat pula dicari di internet. Ensiklopedi, multimedia, majalah dan koran diperlukan karena didalamnya dapat ditemukan fakta-fakta dan aplikasi konsep yang sangat berguna untuk menyusun materi pembelajaran. Dalam ensiklopedi biasanya fakta, konsep dan generalisasi dituliskan secara populer dan dipergunakan untuk menjelaskan berbagai fenomena alam sehingga sangat berguna untuk memperkaya materi pembelajaran. Setelah bahan-bahan referensi terkumpulkan skenario pembelajaran dapat mulai disusun. Pada dasarnya bagian dari skenario pembelajaran yang dikembangkan terdiri dari pendahuluan, eksplorasi, Konsolidasi, aplikasi dan evaluasi. Langkah-langkah skenario pembelajaran dapat diperhatikan pada gambar di bawah ini. Bagian pendahuluan fungsinya adalah untuk menggali pengalaman-pengalaman siswa dalam kehidupan sehari-hari (fakta-fakta) yang terkait dengan konsep atau generalisasi yang akan dijelaskan. Untuk menggali informasi faktual ini dapat diungkapkan dalam bentuk kalimat tanya. Misalnya untuk membangun konsep gaya kepada siswa dapat ditanyakan tentang hal-hal yang dapat menyebabkan sebuah benda bergerak. Bagian pendahuluan diharapkan dapat mengarahkan siswa pada tema aktivitas laboratorium untuk memjawab berbagai pertanyaan yang terkait dengan konsep yang akan dibangun. Bagian eksplorasi adalah bagian dari pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk menggali informasi melalui serangkaian proses ilmiah berupa eksperimen atau kegiatan laboratorium. Pada bagian ini siswa diharapkan melakukan berbagai ketrampilan proses sains. Sedangkan bagian konsolidasi adalah bagian pembelajaran yang memberikan waktu kepada siswa untuk membangun konsep melalui kegiatan diskusi tentang hasil-hasil eksperimennya. Guru berperan untuk mengarahkan agar diskusi berhasil membangun konsep yang diinginkan. Bagian berikutnya adalah aplikasi konsep atau generalisasi yang telah dikembangkan. Pada bagian ini dapat didiskusikan berbagai fenomena alam sehari-hari dengan memanfaatkan konsep atau generalisasi yang telah dikembangkan. Perhitungan matematis mungkin menjadi bagian dari aplikasi ini namun perlu diingat bahwa jangan sampai siswa terjebak dalam masalah matematis saja. Matematika dan kalkulator dalam hal ini hanya berfungsi sebagai alat saja. Pada bagian aplikasi perlu pula ditekankan prediksi tentang hal-hal yang mungkin terjadi jika informasi-informasi awal telah diketahui. Penjelasan tentang fenomena alam atau prediksi juga dapat dipertanyakan kepada siswa untuk mengevaluasi sejauhmana konsep atau generalisasi telah dipahami. Terkait dengan kompetensi lintas kurikulum setiap konsep dan generalisai yang dikembangkan seyogyanya dikaitkan dengan Kebesaran Tuhan, lingkungan serta kultur masyarakat. Sebagai contoh ketika membahas topik kecepatan siswa dapat diajak berdiskusi/memikirkan apakah perlu jalan bebas hambatan diberi batasan kecepatan maksimal, bagaimana pendapat mereka tentang pelanggaran terhadap batas kecepatan, apakah memakai sabuk pengaman sebaiknya diwajibkan atau tidak dan sebagainya. F. Pendekatan Pembelajaran kejuruan Terdapat beberapa pendekatan pembelajaran kejuruan yang dapat diterapkan baik pada SD, SMP maupun SMA. Satu pendekatan lebih menekankan pada fakta, sedangkan yang lain lebih menekankan pada konsep, dan yang lain lagi menekankan pada proses. Guru nantinya harus mampu mengupayakan agar proses pembelajaran dapat menjadi pendorong yang kuat tumbuhnya sikap rasa ingin tahu dan keterbukaan terhadap ide-ide baru maupun kebiasaan untuk berpikir dan bekerja secara ilmiah bagi siswa. Secara garis besar pendekatan-pendekatan tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut. a) Pendekatan Faktual Pembelajaran dengan pendekatan faktual terutama bertujuan untuk mengenalkan siswa pada berbagai fakta. Pada akhir proses pembelajaran, siswa hanya diharapkan memperoleh informasi tentang hal-hal yang telah diajarkan, misalnya: air membeku pada suhu 0C. . b) Pendekatan Konseptual Jika pembelajaran faktual hanya memberikan pandangan sempit tentang ilmu yang dipelajari dan hasil yang minim, maka barangkali pendekatan konseptual menawarkan solusi yang lebih baik. Konsep adalah suatu ide yang mengikat beberapa fakta contohnya, semua materi tersusun atas partikel-partikel. Perolehan konsep biasanya memerlukan kegiatan-kegiatan berupa interaksi dengan objek-objek nyata, eksplorasi, perolehan fakta dan manipulasi ide. Pendekatan konseptual dapat memberikan gambaran yang lebih baik tentang hakikat ilmu daripada pendekatan faktual. Di samping itu, pendekatan konseptual akan meningkatkan kemampuan siswa dalam mengorganisasi fakta menjadi suatu kerangka model. Kedua pendekatan yang telah dibahas, yakni pendekatan faktual dan pendekatan konseptual dalam pembelajaran menekankan pada produk fisika. c) Pendekatan Keterampilan Proses Proses sains diturunkan dari tahapan-tahapan yang pada umumnya dikerjakan saintis ketika melakukan penelitian ilmiah. Langkah-langkah tersebut disebut keterampilan proses yaitu: kegiatan-kegiatan observasi, mengukur, inferensi, memanipulasi variabel, merumuskan hipotesis, menyusun grafik & tabel data, mendefinisikan variabel secara operasional, dan melaksanakan eksperimen. Untuk mengajarkan keterampilan-keterampilan proses tersebut kepada para siswa secara baik dipersyarakatkan bahwa mereka harus benar-benar melakukan kegiatan nyata. Dengan kata lain, siswa harus bekerja sebagai seorang saintis. Oleh karena itu, pendekatan ini mengurangi proporsi kegiatan mendengarkan, membaca dan memperbesar proporsi kegiatan berinteraksi dengan sumber belajar. Pendekatan proses dapat memberikan pemahaman yang benar tentang hakikat ilmu. Keterampilan proses sains dapat dikelompokkan ke dalam: 1.proses sains dasar yang meliputi mengamati/observasi, mengklasifikasi, berkomunikasi, mengukur, memprediksi, dan membuat inferensi, 2) keterampilan proses sains terpadu yang meliputi mengidentifikasi variabel, merumuskan definisi operasional variabel, menyusun hipotesis, merancang penyelidikan, mengumpulkan dan mengolah data, menyusun tabel data, menyusun grafik, mendeskripsikan hubungan antar variabel, menganalisis, melakukan penyelidikan, dan melakukan eksperimen. Mengajarkan keterampilan proses berarti memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan sesuatu bukan hanya membicarakan sesuatu. Pendekatan proses diyakini sebagai pendekatan paling baik dan tepat terutama untuk sains sebab siswa bertindak sebagai subjek belajar yang aktif. Sebagai contoh, sangatlah mudah bagi guru untuk menceritakan kepada siswa bahwa air mendidih pada suhu 100C dan membeku pada suhu 0C. Tetapi manfaat Pengembangan Skenario Pembelajaran Fisika Berbasis Kompetensi10 yang sangat besar bagi siswa akan diperoleh apabila kepada mereka diajarkan bagaimana mengukur suhu secara benar. Siswa akan merasa menemukan sendiri titik didih dan titik beku air serta dapat"menikmati" ilmu yang dipelajarinya. Kemampuan mengukur suhu adalahkemampuan yang transferable, maksudnya dapat diterapkan pada tugas-tugas lain yang relevan. Dengan kata lain, sekali siswa dapat mengukur suhu air yang sedang mendidih atau suhu air yang sedang membeku, maka dia akan mampu mengukur suhu dari sebarang benda. Keterampilan-keterampilan proses yang lain juga transferable. Keterampilan proses adalah bukan pengetahuan biasa seperti halnya fakta akan tetapi bersifat keterampilan yang menetap sepanjang hayat. Siswa boleh lupa fakta dan konsep seperti titik didih air tetapi sekali dia dapat mengukur suhu air mendidih, maka tidak akan pernah lupa bagaimana mengukur suhu. Contoh yang lain misalnya, menyusun grafik adalah keterampilan proses. Jadi, sekali siswa memperoleh keterampilan menyusun grafik dengan benar, maka keterampilan tersebut dapat digunakan untuk berbagai macam data baik dalam bidang ilmu-ilmu alam maupun dalam bidang ilmu-ilmu sosial. d) Pendekatan Kontekstual Pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning) merupakan konsep pembelajaran yang mengaitkan materi yang diajarkan di kelas dengan dunia nyata siswa dan mendorong siswa untuk membuat hubungan antara pengetahuan yang telah dimiliki dengan penerapannya di dalam kehidupannya sebagai individu, anggota keluarga dan masyarakat. Pembelajaran berbasis kontekstual akan lebih mementingkan pengalaman dan kegiatan siswa daripada target penguasaan materi. Pengalaman-pengalaman konkret yang diperoleh siswa akan sangat efektif dalam membantu proses belajar hanya jika terjadi dalam konteks struktur konseptual yang relevan. Jelaslah bahwa proses pembelajaran akan lebih efektif apabila Pengembangan Skenario Pembelajaran kejuruan Berbasis Kompetensi 11 dilaksanakan dalam lingkungan yang bernuansa alami dengan suasana yang tidak asing bagi siswa. e) Pendekatan Konstruktivistik Pendekatan kontekstual sebenarnya berakar dari paham constructivism yang pada dasarnya menyatakan bahwa seseorang melakukan kegiatan belajar tidak lain adalah dalam rangka membangun pengetahuan melalui interaksi dan interpretasi lingkungannya. Menurut teori konstruktivistik , belajar siswa akan bermakna apabila dilakukan dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri, serta membangun sendiri pengetahuan, keterampilan, dan sikap barunya melalui kegiatan-kegiatan observasi, bereks perimen, berdiskusi, dan lain-lain. Sebuah sistem pembelajaran akan lancar sesuai dengan harapan seorang pendidik atau guru, hal ini akan tercapai apabila memenuhi salah satu syarat dalam komponen pembelajaran. Dan sebagaimana dijelaskan di muka, skenario adalah salah satu diantara yang paling penting dalam kelancaran proses pembelajaran. Dalam penyusunan skenario pun ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, salah satunya adalah langkah-langkah pembuatan skenario pembelajaran tersebut, langkah-langkahnya antara lain:
  1. Kita harus mempelajari LKS (Lembar Kerja Soal) yang akan digunakan oleh siswa guna mengetahui materi apa yang akan dipelajari dan dengan cara bagaimana guru akan memfasilitasi peserta didik
  2. Kita harus menulis langkah-langkah yang akan dilakukan dalam proses pembelajaran, sesuai dengan tahapan-tahapan pembelajaran yang direncanakan. Dan langkah-langkah pembelajaran tersebut ditulis secara lengkap tentang apa yang dilakukan oleh guru terhadap siswa.
  3. Kita harus menuliskan rencana penilaian terhadap kagiatan belajar peserta didik. Penilaian dilakukan selama proses pembelajaran berlangsung dan pada setiap akhir kegiatan pembelajaran.